• (0251) 8616655
  • prodi.hes@sebi.ac.id
  • Bojong sari, Depok, Jawa Barat
PTS Tidak Kekurangan Mimpi—Yang Sering Kurang Itu Strategi dan Keberanian Berkolaborasi

PTS Tidak Kekurangan Mimpi—Yang Sering Kurang Itu Strategi dan Keberanian Berkolaborasi

Menjadi unggul bagi Perguruan Tinggi Swasta memang tidak sederhana.
Ada dilema yang hampir selalu hadir di balik ruang rapat, proposal penelitian, dan target akreditasi: antara menjaga kualitas akademik atau bertahan dengan keterbatasan dana.

Ingin penelitian berkualitas?
Butuh biaya.

Ingin publikasi bereputasi?
Butuh dukungan.

Tetapi ketika dana terbatas, riset akhirnya berjalan seadanya. Bukan karena dosennya tidak mampu berpikir, melainkan karena sistemnya belum cukup kuat menopang budaya akademik yang serius.

Dan mungkin di situlah letak tantangan terbesar PTS hari ini:
bukan kekurangan semangat, tetapi sering kali kekurangan strategi jangka panjang.

Padahal dunia akademik tidak bisa dibangun dengan pola “jalan dulu, pikir nanti” itu namanya sporadis dalam beraksi. Mengelola penelitian bisa jadi  mirip mengelola strategi sepak bola modern: tim besar bukan hanya punya pemain hebat, tetapi punya roadmap permainan yang jelas. Ada target musim, strategi menyerang, pola bertahan, pembagian peran, bahkan simulasi sebelum pertandingan dimulai.

Begitu pula program studi.

Kalau PRODI HES menargetkan akreditasi unggul pada tahun 2028, maka sesungguhnya waktu itu masih mungkin dikejar. Tetapi syaratnya satu: target besar tidak boleh hanya menjadi slogan motivasi tanpa kalkulasi akademik yang realistis.

Mari bicara jujur dengan angka.

Jika terdapat 9 dosen tetap, lalu diasumsikan setiap dosen minimal menghasilkan 1 artikel SINTA 2 setiap tahun, maka dalam 3 tahun diperlukan sekitar 27 publikasi dosen. Secara administratif, angka itu terlihat indah di atas kertas.

Tetapi realitasnya tidak sesederhana tabel target kerja.

APC jurnal 1–3 juta rupiah per artikel saja sudah menjadi beban besar tersendiri. Jika dikalikan 27 artikel, maka anggaran yang dibutuhkan bisa mencapai puluhan juta rupiah, bahkan lebih ketika ditambah proofreading, translate, revisi, seminar, dan proses pendukung lainnya.

Di satu sisi yang lain, banyak PTS akhirnya terjebak pada situasi yang melelahkan:
ingin unggul, tetapi strategi riset masih individual.
Ingin publikasi meningkat, tetapi dosen dibiarkan berjuang sendiri-sendiri.

Padahal jika dipikir ulang, mungkin yang dibutuhkan bukan selalu menambah beban, tetapi mengubah cara bermain.

Karena publikasi ilmiah tidak selalu harus lahir dari kerja sendiri sendiri.

Kolaborasi justru bisa menjadi strategi akademik paling realistis bagi PTS yang ingin Unggul dalam akreditasi.

Bayangkan jika 9 dosen dibagi menjadi 3 tim kolaborasi. Setiap tim terdiri dari 3 dosen, lalu dalam 3 tahun masing-masing tim menghasilkan 3 artikel bersama dengan skema author dan co-author. Secara riil mungkin hanya ada 9 judul artikel yang benar-benar ditulis, bukan 27 artikel terpisah. Tetapi dalam sistem akreditasi, keterlibatan dosen tetap tetap terbaca dan terhitung sebagai kontribusi akademik masing-masing dosen.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa unggul tidak selalu tentang bekerja lebih banyak, tetapi bekerja lebih strategis.

Karena jika semua dosen berjalan sendiri-sendiri, maka energi habis untuk bertahan. Tetapi ketika riset dibangun secara kolaboratif, beban menjadi lebih ringan, biaya lebih realistis, kualitas diskusi meningkat, dan peluang lolos jurnal bereputasi menjadi lebih besar.

Namun ada satu hal yang juga sering dilupakan:
budaya publikasi tidak cukup hanya dibangun dengan target dan tuntutan. Ia juga perlu apresiasi.

Dosen yang berhasil publikasi dijurnal bereputasi jangan lupa seharusnya tidak hanya diberi ucapan “terima kasih”, tetapi juga mendapatkan bentuk penghargaan yang nyata atas prestasi. Karena publikasi ilmiah bukan pekerjaan ringan. Ia menyita waktu pribadi, energi intelektual diri, bahkan sering mengorbankan akhir pekan dan waktu bersama keluarga inti.

Maka insentifikasi publikasi bukan pemborosan anggaran yang tiada nilai. Ia adalah bentuk penghormatan terhadap kontribusi dan dedikasi.

Ketika dosen berhasil menembus SINTA 2 atau jurnal bereputasi lainnya, lalu institusi memberikan insentif yang layak, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya semangat individu, tetapi kultur akademik jangka panjang. Dosen merasa dihargai, kompetisi sehat tumbuh, dan publikasi tidak lagi dipandang sebagai beban administratif semata.

Karena kadang yang membuat dosen lelah bukan hanya revisi reviewer, tetapi perasaan bahwa kerja intelektualnya dianggap biasa saja tiada arti.

Padahal riset tumbuh bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena institusi tahu cara menghargai orang-orang yang menjaga marwah akademiknya.

Dan mungkin memang seperti itu wajah perguruan tinggi yang sehat:
bukan dosennya sibuk berjuang sendirian, melainkan institusinya mampu membangun ekosistem yang tersistemisasi.

Sebab, unggul bukan hanya urusan dosen menulis artikel dan publikasi.
Ia adalah pertemuan antara:

  • PRODI yang punya roadmap jelas,
  • dosen yang mau bergerak bersama,
  • bagian keuangan yang memahami bahwa riset adalah investasi jangka panjang,
  • dan institusi yang tahu bahwa apresiasi adalah bahan bakar keberlanjutan akademik.

Karena dunia akademik punya satu kenyataan yang sering terlambat disadari:

Reputasi tidak dibangun dalam semalam.
Tetapi bisa gagal dibangun hanya karena semua berjalan tanpa strategi.

Masih ada tiga tahun.
Masih ada waktu untuk menyusun pola permainan.
Dan mungkin, jalan menuju unggul memang tidak dimulai dari kerja yang heroik sendirian—

melainkan dari keberanian untuk berkata:
“Kalau berat dipikul sendiri, kenapa tidak dibangun bersama?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *