
Jangan Harap Dosen Meneliti, Kalau Dukungan Keuangan Masih Dianggap Beban
Semua orang ingin unggul.
Tetapi tidak semua siap memahami bahwa unggul membutuhkan biaya, keberpihakan, dan keberanian mendukung proses akademik secara nyata.
Kita sering berbicara tentang publikasi internasional, jurnal bereputasi, indeks SINTA, sitasi, dan target unggul. Namun di saat yang sama, ada satu hal mendasar yang kadang masih diperlakukan seolah sekadar urusan administratif biasa: dukungan keuangan untuk penelitian dan publikasi dosen.
Padahal penelitian bukan lahir dari motivasi saja.
Ia membutuhkan akses data, perangkat riset, biaya pengambilan data, proofreading, translate, similarity check, hingga Article Processing Charge (APC) jurnal. Bahkan untuk sekadar submit ke jurnal yang baik, seorang dosen kadang harus menyiapkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi ketika artikel masuk revisi dan membutuhkan perbaikan tambahan.
Ironisnya, di banyak situasi, dosen diminta produktif meneliti tetapi tetap berjuang sendiri membiayai proses akademiknya.
Di titik ini, kita perlu jujur melihat realitas:
jangan berharap budaya riset tumbuh kuat jika dukungan keuangan masih setengah hati.
Karena penelitian bukan kegiatan sambilan. Ia adalah investasi institusi. Setiap artikel dosen yang terbit pada jurnal bereputasi sebenarnya sedang membawa nama program studi, meningkatkan rekognisi akademik, memperkuat akreditasi, bahkan membuka peluang jejaring yang lebih luas.
Satu artikel SINTA 2 mungkin terlihat hanya satu baris di borang, tetapi di belakangnya ada waktu berbulan-bulan, tenaga, pikiran, dan biaya yang sering kali tidak kecil.
Dan lebih dari itu, penelitian dosen bukan hanya tentang angka akreditasi. Ia membentuk kultur akademik. Ketika dosen aktif meneliti, mahasiswa ikut belajar menulis. Diskusi ilmiah hidup. Kelas menjadi lebih aktual. Program studi punya arah keilmuan yang nyata.
Karena itu, dukungan keuangan seharusnya dipandang sebagai modal akademik, bukan beban anggaran. Modal untuk membangun reputasi, modal untuk memperkuat budaya ilmiah, dan modal untuk menyiapkan masa depan institusi.
Sebab jangan berharap ada dukungan besar dari luar—hibah nasional, kolaborasi internasional, atau pengakuan akademik—jika dari dalam saja riset belum benar-benar didukung. Dunia luar biasanya hanya percaya pada institusi yang terlebih dahulu percaya pada dosennya sendiri.
Aneh rasanya ketika institusi ingin unggul, tetapi anggaran penelitian dianggap sekadar pelengkap. Ingin publikasi bereputasi, tetapi proses pencairan membuat semangat dosen lebih dulu habis sebelum artikelnya selesai. Ingin dosen produktif, tetapi dukungan akademik masih harus dinegosiasikan terlalu panjang.
Padahal dunia akademik bergerak cepat. Momentum riset tidak selalu bisa menunggu rapat berikutnya. Deadline jurnal tidak memahami birokrasi internal.
Mungkin karena itu, program studi yang kuat biasanya bukan hanya memiliki dosen yang rajin meneliti, tetapi juga sistem yang memahami bahwa riset perlu ditopang secara serius.
Sebab pada akhirnya, unggul bukan hanya hasil kerja dosen.
Ia adalah hasil dari keberanian institusi menghargai ilmu pengetahuan.
Kalau ingin dosen aktif meneliti, maka dukung prosesnya.
Kalau ingin publikasi meningkat, maka kuatkan ekosistemnya.
Kalau ingin unggul benar-benar terwujud, maka jangan biarkan dosen berjalan sendiri.
Karena dosen bisa bertahan dengan idealisme.
Tetapi riset tetap membutuhkan dukungan yang realistis.
