
Kalau Dosen Tidak Meneliti, Jangan Tanya Kenapa Unggul Terlihat Jauh
Unggul sering dibicarakan dengan penuh semangat, tetapi diam-diam dilupakan pada bagian paling mendasarnya: keterlibatan langsung dosen tetap dalam penelitian dan publikasi ilmiah. Padahal di dunia akademik, reputasi program studi tidak hanya dibangun oleh gedung, kegiatan, atau administrasi yang rapi, tetapi oleh jejak intelektual para dosennya.
Satu artikel ilmiah yang terindeks SINTA 1, SINTA 2, atau SINTA 3 bukan sekadar angka pada laporan kinerja. Ia adalah bukti nyata bahwa dosen masih hadir dalam denyut ilmu pengetahuan—meneliti, menulis, berpikir, dan berkontribusi. Di situlah sesungguhnya ruh perguruan tinggi hidup.
Karena itu, membuat satu artikel ilmiah sejatinya bukan hanya soal publikasi. Ia adalah bentuk keterlibatan langsung dosen tetap dalam membangun kualitas program studi. Satu artikel mungkin terlihat kecil di layar spreadsheet, tetapi dalam penilaian unggul, ia bisa menjadi pembeda antara “cukup” dan “diakui”.
Dan menariknya, yang paling sering tidak terlihat justru proses panjang di belakangnya.
Ada dosen yang mengorbankan waktu istirahat untuk revisi. Ada yang berkali-kali ditolak reviewer. Ada yang harus membaca ulang puluhan referensi hanya untuk memperbaiki satu paragraf metodologi. Bahkan tidak sedikit yang menggunakan dana pribadi untuk proofreading, translate, atau APC jurnal. Publikasi ilmiah sering tampak sederhana ketika sudah terbit, padahal sebelum itu ada energi, pikiran, waktu, dan biaya yang tidak kecil.
Di titik inilah peran institusi menjadi penting. Sebab unggul tidak mungkin hanya dibebankan pada semangat individual dosen semata. Ketika dosen diminta aktif meneliti dan publikasi bereputasi, maka dukungan juga harus nyata—termasuk dari sisi tata kelola dan kebijakan keuangan.
Karena mari jujur: sulit berbicara tentang publikasi internasional dan jurnal bereputasi, jika urusan administrasi riset masih terasa lebih panjang daripada proses penelitiannya sendiri.
Kadang dosen sudah selesai menulis artikel, tetapi energi habis di meja pencairan. Kadang semangat riset tumbuh, tetapi padam karena terlalu lama menunggu dukungan operasional. Padahal publikasi ilmiah bekerja dengan waktu: deadline submit, deadline revisi, deadline pembayaran, dan momentum riset yang tidak selalu bisa ditunda.
Maka unggul sesungguhnya bukan hanya tugas dosen. Ia adalah kerja kolektif. Dosen menulis dan meneliti. Program studi mengarahkan roadmap keilmuan. Dan bagian keuangan menjadi salah satu penyangga agar proses akademik tidak berhenti di tengah jalan.
Sebab pada akhirnya, jurnal bereputasi tidak pernah bertanya:
“Apakah proses administrasinya rumit?”
Yang dinilai tetap kualitas artikelnya.
Jika satu dosen menghasilkan satu publikasi bereputasi, maka satu langkah menuju unggul telah bergerak. Jika itu dilakukan bersama-sama, konsisten, dan saling mendukung, maka unggul bukan lagi slogan, tetapi arah yang realistis.
Masih ada waktu dua tahun.
Masih ada kesempatan memperbaiki ritme.
Dan mungkin, unggul memang dimulai dari hal sederhana:
Dosen yang terus meneliti,
dan sistem yang tidak membuatnya berjalan sendiri.
