• (0251) 8616655
  • prodi.hes@sebi.ac.id
  • Bojong sari, Depok, Jawa Barat
Mengurai yang Kusut, Menata yang Terhubung: Jalan Sunyi Menuju Keunggulan Sistemik

Mengurai yang Kusut, Menata yang Terhubung: Jalan Sunyi Menuju Keunggulan Sistemik

Setelah kita belajar tentang pentingnya merencanakan dengan benar, dan menyadari bahwa kita perlu keluar untuk melihat dunia yang terus berubah, ada satu fase yang tidak kalah penting dalam perjalanan sebuah program studi: fase ketika kita harus berhadapan dengan realitas internal yang tidak selalu rapi.

Di titik inilah kita mulai melihat sesuatu yang selama ini mungkin kita rasakan, tetapi belum sepenuhnya kita pahami:
bahwa banyak persoalan di dalam prodi bukanlah masalah yang berdiri sendiri, melainkan jejaring persoalan yang saling terhubung.

Seperti benang yang ruwet.

Tidak jelas di mana ujungnya.
Tidak mudah menentukan harus mulai dari mana.
Dan semakin ditarik tanpa arah, justru semakin mengencang.

Sebagai Kaprodi, saya sampai pada satu kesadaran penting:
bahwa kompleksitas bukan untuk dihindari, tetapi untuk dipahami.

Selama ini, kita mungkin terlalu terbiasa menyelesaikan masalah secara parsial. Ketika ada kendala dalam pembelajaran, kita perbaiki di kelas. Ketika publikasi rendah, kita dorong dosen menulis. Ketika pengabdian kurang, kita tambah program. Semua terlihat logis. Semua tampak bergerak.

Namun sering kali, hasilnya tidak signifikan.

Mengapa?

Karena kita menyentuh gejala, tetapi belum menyentuh sistem.

Di sinilah system thinking menjadi bukan sekadar pendekatan, tetapi kebutuhan. Cara berpikir ini mengajarkan kita untuk tidak lagi melihat masalah sebagai potongan-potongan terpisah, tetapi sebagai bagian dari satu kesatuan yang saling memengaruhi.

Kualitas lulusan tidak hanya ditentukan oleh mahasiswa, tetapi oleh kurikulum, metode pembelajaran, kapasitas dosen, sistem evaluasi, bahkan budaya akademik.
Produktivitas riset tidak hanya soal motivasi individu, tetapi tentang ekosistem, insentif, kolaborasi, dan arah penelitian.
Pengabdian kepada masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi idealnya menjadi hilir dari riset dan pembelajaran.

Ketika kita mulai melihat keterhubungan ini, cara kita bekerja pun berubah.

Kita tidak lagi bertanya, “apa masalahnya?”
Tetapi mulai bertanya, “bagaimana sistem ini bekerja?”

Dan dari situ, kita menemukan sesuatu yang sangat penting:
bahwa tidak semua simpul harus dibuka sekaligus.

Dalam setiap sistem, selalu ada titik-titik kunci—leverage points—yang jika disentuh dengan tepat, akan memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan intervensi di tempat lain.

Inilah yang sering terlewat: prioritas strategis.

Kita ingin memperbaiki semuanya, tetapi lupa memilih mana yang paling menentukan. Akibatnya, energi tersebar, fokus melemah, dan perubahan menjadi lambat.

Padahal dalam perjalanan menuju HES Unggul 2028, kita tidak hanya membutuhkan kerja keras, tetapi kerja cerdas yang terarah.

Mengurai benang ruwet tidak membutuhkan tenaga besar, tetapi ketepatan cara.
Menata sistem tidak membutuhkan banyak program, tetapi kejelasan arah dan prioritas.

Sebagai pemimpin, saya belajar bahwa tugas utama bukan menjadi “pemadam masalah”, tetapi menjadi “perancang sistem”. Memastikan bahwa setiap bagian dalam prodi tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan.

Di sinilah integrasi menjadi kata kunci.

Pembelajaran terhubung dengan riset.
Riset terhubung dengan pengabdian.
Pengabdian kembali memperkaya pembelajaran.

Dan semuanya bergerak dalam satu narasi besar: membangun Prodi HES yang unggul, relevan, dan berdampak.

Namun semua ini tidak akan terjadi tanpa perubahan cara berpikir.

Kita perlu berani meninggalkan cara lama yang reaktif.
Kita perlu melatih diri untuk melihat lebih dalam, bukan hanya lebih cepat.
Kita perlu membangun budaya berpikir sistem—di antara dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh stakeholder.

Karena pada akhirnya, keunggulan bukan lahir dari aktivitas yang banyak, tetapi dari sistem yang bekerja dengan selaras.

Refleksi ini bukan tentang menemukan jawaban instan, tetapi tentang mengubah cara kita bertanya. Dari yang sederhana menjadi lebih mendasar. Dari yang parsial menjadi menyeluruh.

Dan dari sanalah, perlahan, benang yang ruwet mulai terurai.

Bukan karena kita menariknya dengan paksa, tetapi karena kita memahami polanya.

Penutup

Benang yang kusut tidak untuk diputus.
Ia untuk diurai.

Masalah tidak untuk dilawan.
Ia untuk dipahami.

Mulailah berpikir sistem.
Tentukan yang paling prioritas.
Dan biarkan perubahan bekerja melalui keterhubungan.

Menuju HES Unggul 2028.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *