
Mengawal Arah, Menjaga Nyala: Dari Pengendalian Menuju Budaya Keunggulan
Pada akhirnya, setiap rencana yang telah disusun, setiap langkah yang telah dijalankan, dan setiap sistem yang mulai ditata, akan sampai pada satu pertanyaan yang sangat mendasar:
Apakah kita benar-benar berjalan sesuai arah yang kita tetapkan?
Di sinilah peran controlling menemukan makna terdalamnya.
Selama ini, pengendalian sering dipahami secara sempit—sekadar memeriksa, mengevaluasi, atau memastikan bahwa program berjalan sesuai jadwal. Ia identik dengan laporan, angka, dan checklist. Penting, tetapi belum cukup.
Karena dalam perjalanan menuju keunggulan, pengendalian bukan hanya soal memastikan bahwa kita bekerja.
Tetapi memastikan bahwa kita bekerja pada hal yang benar, dengan cara yang benar, menuju tujuan yang benar.
Sebagai Kaprodi, saya mulai melihat bahwa controlling bukanlah fungsi administratif, tetapi fungsi kesadaran. Ia adalah proses untuk terus bertanya, mengingatkan, dan—yang paling penting—meluruskan arah ketika mulai menyimpang.
Kita bisa saja sangat produktif. Banyak program berjalan. Banyak aktivitas terlaksana. Banyak laporan tersusun rapi. Namun tanpa pengendalian yang jujur, semua itu berisiko menjadi ilusi kemajuan.
Kita bergerak, tetapi belum tentu mendekat.
Kita sibuk, tetapi belum tentu berdampak.
Di sinilah keberanian refleksi menjadi kunci.
Pengendalian yang sehat bukan mencari kesalahan, tetapi mencari kebenaran. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki. Ia menuntut kejujuran kolektif—kejujuran untuk melihat apa adanya, tanpa pembenaran yang berlebihan.
Dalam konteks Prodi HES, pengendalian berarti berani bertanya:
Apakah pembelajaran kita benar-benar mencapai CPL?
Apakah riset kita benar-benar berkontribusi?
Apakah pengabdian kita benar-benar berdampak?
Apakah semua yang kita lakukan benar-benar mengarah pada HES Unggul 2028?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu nyaman. Tetapi justru di situlah kualitas dibentuk.
Namun, ada satu hal yang lebih penting dari pengendalian itu sendiri:
apa yang terjadi setelah kita mengevaluasi?
Jika pengendalian berhenti pada laporan, maka ia tidak akan mengubah apa pun. Tetapi jika pengendalian menjadi kebiasaan berpikir, maka ia akan melahirkan sesuatu yang jauh lebih besar: budaya keunggulan.
Budaya tidak dibangun dari slogan.
Budaya dibangun dari kebiasaan yang diulang, dijaga, dan diwariskan.
Ketika setiap dosen terbiasa merefleksikan pembelajarannya,
ketika setiap program dievaluasi dengan jujur,
ketika setiap capaian tidak hanya dirayakan tetapi juga ditingkatkan,
maka perlahan, tanpa disadari, kita sedang membangun budaya.
Budaya untuk tidak puas pada standar minimal.
Budaya untuk selalu bertanya “apa yang bisa lebih baik?”
Budaya untuk menjaga kualitas, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Inilah yang membedakan prodi yang baik dengan prodi yang unggul.
Prodi yang baik bekerja karena sistem.
Prodi yang unggul bekerja karena budaya.
Dan budaya itu tidak bisa dipaksakan. Ia harus ditumbuhkan.
Sebagai pemimpin, saya menyadari bahwa membangun budaya keunggulan bukan tentang memberi instruksi, tetapi tentang memberi contoh. Bukan tentang mengawasi secara ketat, tetapi tentang menghidupkan kesadaran bersama.
Ketika pengendalian dilakukan dengan konsisten dan penuh makna, ia akan membentuk pola. Pola itu menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjadi karakter. Dan karakter itulah yang menjadi budaya.
Dalam perjalanan menuju HES Unggul 2028, inilah fase yang paling menentukan.
Karena pada titik ini, kita tidak lagi hanya berbicara tentang apa yang harus dilakukan, tetapi tentang siapa kita sebagai Prodi HES.
Apakah kita prodi yang hanya bekerja saat dinilai?
Ataukah prodi yang menjaga kualitas sebagai bagian dari identitas?
Apakah kita bergerak karena tuntutan eksternal?
Ataukah karena kesadaran internal?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan arah kita ke depan.
Pengendalian yang hidup akan melahirkan budaya yang kuat.
Dan budaya yang kuat akan menjaga keunggulan, bahkan tanpa diawasi.
Jangan hanya pastikan kita bekerja.
Pastikan kita bekerja pada arah yang benar.
Jangan hanya mengejar capaian.
Bangun budaya yang menjaga kualitas.
Karena ketika budaya keunggulan telah hidup,
unggul bukan lagi target—
melainkan identitas.
Menuju HES Unggul 2028.
