• (0251) 8616655
  • postgraduate.ibf@sebi.ac.id
  • Bojong sari, Depok, Jawa Barat
Publikasi Itu Melelahkan—Maka Jangan Berharap Unggul Datang Tanpa Lelah

Publikasi Itu Melelahkan—Maka Jangan Berharap Unggul Datang Tanpa Lelah

“Melaksanakan penelitian yang mengintegrasikan turats (warisan keilmuan klasik) dengan inovasi kontemporer untuk mendukung pengembangan hukum bisnis, ekonomi, dan keuangan syariah.”
Kalimat misi ini bukan sekadar pernyataan normatif. Ia adalah panggilan intelektual—bahwa riset dan publikasi bukan pekerjaan administratif, melainkan amanah keilmuan yang menuntut kesungguhan, kedalaman, dan keberanian berpikir.

Unggul tidak pernah lahir dari jalan pintas. Ia tidak tumbuh dari laporan yang rapi, tabel yang penuh centang, atau optimisme administratif semata. Unggul selalu lahir dari kerja intelektual yang pelan, sering sunyi, dan kadang membuat lelah—terutama ketika ia bernama penelitian dan publikasi ilmiah.

Dalam kerangka penilaian, publikasi dosen sebesar 20% hanyalah syarat awal agar sebuah program studi boleh ikut dinilai menuju unggul. Ia bukan jaminan, apalagi tujuan akhir. Tanpa angka itu, unggul tidak bisa dibicarakan; dengan angka itu pun, unggul belum tentu tercapai. Di titik ini, kita sedang diuji bukan pada ambisi, tetapi pada kesiapan akademik yang sesungguhnya.

Realitas di lapangan bahkan lebih tegas. Unggul tidak berhenti pada “ada publikasi”, tetapi pada di mana dan tentang apa publikasi itu terbit. Publikasi ilmiah dosen pada jurnal bereputasi, minimal SINTA 2, menjadi standar tak tertulis yang menentukan kualitas. Bukan sekadar memenuhi kewajiban, melainkan menunjukkan otoritas keilmuan. Dan di sinilah beban itu terasa paling berat.

Namun, perlu ditegaskan: publikasi bukan sekadar publikasi. Ia bukan soal mengejar jurnal apa pun yang bersedia menerima, atau menulis topik yang sedang tren tetapi jauh dari keahlian. Publikasi yang bermakna justru lahir ketika dosen menulis sesuai bidang keilmuan, kepakaran, dan rekam akademiknya sendiri. Di sanalah kualitas tumbuh, sitasi datang, dan reputasi terbentuk. Unggul tidak dibangun dari publikasi yang dipaksakan, tetapi dari keilmuan yang dipertanggungjawabkan.

Namun, berat tidak identik dengan mustahil.

Publikasi ilmiah bukan pekerjaan instan. Ia bukan soal “hari ini submit, besok terbit.” Publikasi ilmiah bukan kerja instan—bukan hari ini submit, besok terbit. Ia adalah proses panjang: satu bulan, tiga bulan, enam bulan, bahkan satu tahun. Dari riset, penulisan, review, revisi, hingga akhirnya layak terbit. Publikasi adalah latihan kesabaran intelektual.

Karena itu, wajar jika publikasi terasa berat. Ia menuntut konsistensi berpikir, kedalaman analisis, dan keberanian menerima kritik.

Di sinilah pentingnya kesadaran waktu. Unggul tidak dibangun dalam semalam, tetapi melalui perencanaan yang matang dan disiplin yang berkelanjutan. Ya, waktu itu masih tersedia. Dua tahun ke depan adalah ruang strategis—bukan untuk menunda, tetapi untuk menata langkah sejak awal.

Di tengah beban itu, kolaborasi bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan. Publikasi tidak harus menjadi kerja individual yang melelahkan. Kolaborasi dosen dengan dosen, dosen dengan mahasiswa, lintas keahlian, bahkan lintas institusi, adalah jalan akademik yang sah dan kuat. Bukan untuk saling menumpang nama, tetapi untuk saling menguatkan kompetensi.

Unggul bukan milik mereka yang paling cepat mengumpulkan angka, tetapi milik mereka yang paling konsisten membangun kualitas. Setiap draft yang ditulis sesuai keahlian, setiap data yang dianalisis dengan jujur, setiap revisi yang dikerjakan tanpa mengeluh—semuanya adalah investasi akademik jangka panjang.

Masih ada waktu.
Masih ada ruang untuk berproses.
Dan setiap capaian unggul selalu diawali oleh satu keputusan sederhana: memulai dengan serius.

Pelan, relevan, dan kolaboratif.
Ayo publikasi. Dosen Unggul prodipun ikut Unggul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *